Kecintaan Dan Pendidikan Untuk Sistem Imun

Rasa cinta dan pendidikan bagi sistem imun memiliki peran yang penting untuk menguatkan sistem imun itu sendiri. berikut penuturannya.

Cinta dan gaya hidup

Sistem imun sebenarnya adalah suatu alat yang diberikan Alloh kepada kita untuk mengukur seberapa berhasilkah kita menjaga keseimbangan dalam hidup. Sistem imun akan optimal jika hidup kita tenang dan jiwa kita tidak tercekam oleh rasa gelisah dan resah. Sebagai salah satu bukti adalah peran cinta.

Cinta adalah sebuah perasaan yang demikian indah dan dimiliki oleh setiap manusia. Secara fisiologis, ketika seseorang merasakan cinta, hormon-hormon pengatur cinta akan meningkat kadarnya dalam tubuh. Hormon-hormon itu antara lain adalah endorfin, feniletilamin, okstosin dan serotonin.

Peningkatan kadar hormon-hormon tersebut akan menekan hormon takut (skotofobin) dan hormon cemas (kortisol). Padahal, kedua hormon itulah yang menekan aktifitas sistem imun. Jadi, kita takut dan gelisah, sistem imun kita pun akan merasa takut dan gelisah. Karena cinta mampu menghambat proses produksi kortisol, dengan cinta kita bisa meningkatkan efektifitas sistem imun.

Bagaimana agar hormon cinta, bahagia, dan gembira dapat kita jaga kadarnya? Cara yang  termudah dan paling sederhana adalah dengan menyesuaikan gaya hidup kita. Karena hormon terkait dengan bioritme, kita sebaiknya bersikap tidak tergesa-gesa, tidak berlebihan atau melampaui batas, serta tidak senang berkeluh kesah.

Ketergesaan akan merangsang hormon adrenalin. Jika hormon ini terlalu tinggi, yang muncul justru kecemasan. Berlebihan juga akan merangsang hormon adrenalin (efinefrin) yang akan menstimulasi kortisol. Jika kita berprilaku berlebihan, kerapkali kita kecewa ketika kita menerima atau melihat hasilnya. Sedangkan jika kita berkeluh kesah, akan terjadi rangsaangan produksi hormon kortisol yang pada gilirannya akan menekan sistem imun.

Mendidik sistem imun

Agar sistem imun kita dapat bekerja secara optimal, bukan saja kita harus penuhi syarat-syarat biologisnya, melainkan harus dididik semenjak dini. Proses pendidikan sistem imun ini banyak ditentukan oleh ibu, mengingat ibu telah berinteraksi dengan anaknya sejak sang anak masih berada dalam kandungan.

Dalam proses kehamilan, perubahan apapun yang terjadi pada ibu, senantiasa akan dibagi bersama dengan anak yang dikandungnya. Jika ibu senantiasa mengisi masa kehamilan dengan kecemasan atau kesedihan, hormon sedih dan cemas ibu akan disampaikan kepada anak melalui saluran darah ditali pusat.

Karena adanya stimulasi itu, bagian-bagian dari sistem imun anak akan ditekan, mengingat hormon kesedihan bersifar negatif bagi sistem imun. Tidak hanya itu, bagian otak yang berfungsi sebagai daerah asosiasi juga akan dipengaruhi pertumbuhannya. Bagian apakah yang terpengaruh? Tentu saja bagian yang mengatur kesedihan dan kekecewaan.

Dengan demikian, ketika lahir dan beranjak dewasa, seorang anak telah di setting sedemikian rupa untuk menjadi pribadi pemurung dan berpotensi untuk memiliki sistem imun denga efektifitas rendah. Karena secara genetika anak mewarisi lebih banyak materi genetika dari ibu daripada ayah, proses pewarisan genetika dari ibu kepada anak selama masa kehamilan akan menjadi tidak sempurna. Hal tersebut berpotensi pula menurunkan kualitas sistem imun.

Salah satu unit sel yang diwariskan dari ibu adalah mitokondria. Pada mitokondria terdapat seutas DNA yang menyerupai DNA di inti sel. Hanya saja, isinya adalah kode gen bagi pembentukan enzim yang terlibat dalam proses pembentukan energi biologi. Jika mitokondria tidak sempurna, sistem imun akan kehilangan sumber energi, alias tak berdaya.

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Comment